Lentera Sastra Banyuwangi
28 April 2026

Siswa MAN 3 Banyuwangi Borong Prestasi di FLS3N 2026 Tingkat Kabupaten

BANYUWANGI, (Lensa Banyywangi) Senin sore itu, halaman SMK Negeri 1 Glagah seperti berdenyut oleh napas seni. Tepuk tangan mengalun bagai ombak kecil yang tak henti berkejaran, wajah-wajah tegang perlahan luruh menjadi senyum lega, dan pelukan-pelukan hangat menjadi bahasa paling jujur dari sebuah perjuangan. Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten yang digelar oleh Puspresnas bukan sekadar ajang lomba, melainkan perayaan rasa, ruang di mana bakat menemukan takdirnya.

Di antara riuh itu, nama Damar Adji mengapung seperti nada yang tak ingin usai. Ia berdiri di panggung Solo Vokal Putra bukan hanya dengan suara, tetapi dengan jiwa yang telah ditempa oleh pengalaman. Beberapa hari sebelumnya, ia telah menyapa publik dalam gelaran Wojiwo Pandome Urip di Gesibu—dan kini, ia kembali, dengan suara yang lebih matang, lebih dalam, seolah membawa gema perjalanan batinnya. Kemenangannya bukan sekadar angka, melainkan penegasan bahwa kesungguhan akan selalu menemukan jalannya.

Sebanyak 53 sekolah dari jenjang SMA, MA, dan SMK negeri maupun swasta berkumpul dalam satu gelanggang, membawa 452 mimpi yang ingin diuji. Banyuwangi menjadi salah satu simpul energi terbesar di Jawa Timur hari itu—bukan hanya karena jumlah peserta, tetapi karena getaran kualitas yang terasa di setiap penampilan.

Dari pusaran itu, siswa MAN 3 Banyuwangi hadir seperti arus yang tenang namun pasti. Mereka tidak datang untuk sekadar meramaikan, melainkan untuk menorehkan jejak. Pada kategori Musik Tradisional, Luna Veronika, Baiq, Nova, Ardy, dan Rehan merangkai bunyi menjadi doa, mengantar mereka meraih Juara 2. Di tangan mereka, tradisi tidak menjadi barang lama, melainkan nyala yang terus hidup.

 

Di cabang Tari Kreasi, langkah Giyanti dan Okta menulis cerita lewat gerak—lirih namun tegas—hingga mengantarkan mereka pada Juara 3. Sementara itu, di dunia visual, Azzahra Kartika menenun imajinasi menjadi gambar dan kisah, meraih Juara 2 Komik Digital, seolah membuktikan bahwa cerita bisa hidup dalam garis dan warna.

 

Pada layar kecil Film Pendek, Yave, Silvia, dan Aldy menghadirkan semesta mereka sendiri—sebuah dunia yang cukup kuat untuk mengantar mereka meraih Juara 3. Di panggung sunyi Monolog, Zaharatus Sita berdiri sendiri, namun suaranya menjangkau banyak hati, hingga memperoleh Juara Harapan 1.

 

Dan di antara kata-kata yang melayang, Dinda merangkai puisi bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dirasakan. Ia membawa pulang Juara 2 Baca Puisi, melengkapi mozaik prestasi yang disusun dengan ketekunan.

Bagi Eny Susiani, guru pendamping MAN 3 Banyuwangi, capaian ini seperti hujan yang turun di musim yang tak disangka. Ada haru, ada bangga, ada syukur yang tak mudah diucapkan dengan kata sederhana.

“Kami datang dengan langkah ragu, tapi pulang dengan hati yang penuh. Anak-anak ini telah mengajarkan bahwa keberanian untuk mencoba adalah awal dari keajaiban,” tuturnya pelan, namun sarat makna.

FLS3N hari itu bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium. Ia adalah pertemuan antara mimpi dan kerja keras, antara bakat dan keberanian. Dari panggung sederhana di Glagah, tumbuh harapan-harapan yang tak kasatmata—bahwa seni dan sastra akan terus menjadi napas, menghidupi, dan mengharumkan Banyuwangi, kini dan nanti. (eny)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *