Wojiwo Pandome Urip: Ketika Jiwa Menemukan Pedoman di Panggung Sejarah dan Budaya Banyuwangi
Di antara gemuruh zaman yang kian bising oleh derap teknologi dan hiruk pikuk kepentingan, manusia seringkali kehilangan arah pulang. Ia berjalan jauh, menempuh jalan berliku, namun lupa menanyakan satu hal paling mendasar: ke mana sesungguhnya langkah ini hendak ditujukan? Maka dalam ruang kegamangan itu, Tuhan seakan menurunkan isyarat melalui kearifan yang sederhana namun dalam: pandome urip. Ia bukan sekadar kata, melainkan doa yang menjelma arah; bukan sekadar pedoman, melainkan cahaya yang membimbing langkah manusia agar tidak tercerabut dari akar asalnya.
Pandome urip adalah suara sunyi yang sering kalah oleh gemuruh dunia. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tetapi setia menunggu di kedalaman batin manusia. Ia hadir sebagai bisikan Ilahi yang mengajak manusia untuk kembali menyadari bahwa hidup bukan sekadar berlari mengejar dunia, melainkan perjalanan pulang menuju-Nya. Dalam setiap detik yang kita jalani, sesungguhnya kita sedang diuji: apakah kita berjalan dengan pedoman, atau sekadar hanyut dalam arus tanpa arah.
Kita lahir dari sejarah yang tak dapat kita hapuskan. Kita tumbuh dari tanah yang menyimpan jejak-jejak doa para leluhur. Banyuwangi, tanah Blambangan yang diberkahi, bukan sekadar ruang geografis, melainkan ayat terbuka yang mengajarkan manusia tentang harmoni. Di sebelah barat, berdiri kokoh Gunung Ijen dengan kawahnya yang menyemburkan api biru—seakan mengingatkan bahwa bahkan dari luka bumi, cahaya tetap bisa lahir. Di sebelah timur, terbentang Selat Bali dengan arusnya yang deras—seperti kehidupan yang terus bergerak, tak pernah diam, menuntut manusia untuk bijak membaca arah. Di selatan, Laut Selatan Jawa menghampar luas dengan misterinya, sementara Alas Purwo berdiri sebagai penjaga sunyi, paru-paru dunia yang mengajarkan kesabaran dan keteduhan.
Semua itu bukan sekadar bentang alam, melainkan kitab kehidupan yang terbentang. Barangsiapa membaca dengan hati, ia akan menemukan bahwa Tuhan tidak hanya berbicara melalui wahyu yang tertulis, tetapi juga melalui semesta yang terhampar.
Seiring dengan itu, hadir pula konsep wojiwo—jiwa yang menjadi inti dari segala kehidupan. Jiwa adalah amanah, cahaya yang dititipkan Tuhan kepada manusia. Ia bisa bersinar terang jika dirawat dengan dzikir dan kesadaran, namun bisa pula meredup jika dibiarkan tenggelam dalam kelalaian. Dalam jiwa itulah manusia bertemu dengan Tuhannya—bukan melalui suara, tetapi melalui rasa.
Ketika wojiwo bertemu dengan pandome urip, maka lahirlah jalan yang lurus dalam kehidupan. Jiwa yang memiliki pedoman akan berjalan dengan tenang, meski badai menghadang. Sebaliknya, jiwa tanpa pedoman akan mudah goyah, meski dunia tampak baik-baik saja. Maka sesungguhnya krisis terbesar manusia hari ini bukanlah kekurangan harta, tetapi kehilangan arah.
Dalam lanskap kegelisahan itu, sebuah cahaya dinyalakan melalui pagelaran budaya yang digagas oleh Joyokaryo Banyuwangi pada 25 April 2025 di Gelanggang Seni dan Budaya Banyuwangi. Di bawah binaan Elvin Hendrata, panggung tidak lagi sekadar tempat pertunjukan, melainkan mihrab kebudayaan—tempat manusia bersujud melalui seni, merenung melalui kisah, dan menemukan kembali makna melalui keindahan.
Lakon Wojiwo Pandome Urip menjelma sebagai dzikir yang dipentaskan. Ia bukan sekadar cerita, melainkan perjalanan batin. Ketika lampu meredup dan musik mulai mengalun, suasana berubah menjadi khusyuk. Seolah-olah panggung itu bukan lagi milik manusia, tetapi ruang perjumpaan antara dunia dan langit.
Semangat Banyuwangi 1771 yang diangkat dalam pagelaran itu menghidupkan kembali ingatan tentang Perang Bayu—sebuah peristiwa yang bukan hanya tentang peperangan, tetapi tentang iman, tentang keberanian yang lahir dari keyakinan. Rakyat Blambangan berdiri tegak melawan VOC bukan karena mereka kuat, tetapi karena mereka yakin bahwa kehormatan harus diperjuangkan. Bahkan saudara dari Bali turut hadir membantu, membuktikan bahwa persaudaraan sejati melampaui batas wilayah.
Musik yang mengalun malam itu bukan sekadar nada, tetapi doa yang bergetar. Di Taman Blambangan, suara Yons DD berpadu dengan lantunan Damar Aji, menciptakan harmoni lintas generasi. Yang tua memberi kedalaman, yang muda memberi harapan. Musik etnik Banyuwangi yang dipadukan dengan nuansa Bali menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah jurang, melainkan jembatan.
Seni dalam pagelaran itu bukan hanya estetika, tetapi etika. Ia mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras—dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhannya. Bahwa keindahan sejati bukan hanya terletak pada bentuk, tetapi pada makna.
Banyuwangi adalah bukti bahwa keberagaman adalah rahmat. Dari tari Gandrung hingga musik Patrol, dari ritual adat hingga bahasa yang berlapis-lapis, semuanya adalah manifestasi dari kekayaan jiwa kolektif. Dan dalam pagelaran Wojiwo Pandome Urip, semua itu dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh—seperti tasbih yang merangkai butiran doa.
Kehadiran Syafaat menjadi penegas bahwa lentera kebudayaan harus terus menyala. Bahwa sastra dan seni bukan sekadar hiburan, tetapi jalan untuk menjaga nurani. Sementara kekompakan para pengurus Dewan Kesenian Blambangan menjadi bukti bahwa budaya hanya bisa hidup jika dirawat bersama.
Dalam pagelaran itu, penonton bukan sekadar menyaksikan, tetapi ikut berjalan. Mereka diajak menyelami pertanyaan yang tak selalu membutuhkan jawaban: apa arti hidup tanpa pedoman? Apa arti jiwa tanpa kesadaran?
Barangkali memang tidak semua harus dijelaskan. Sebab ada hal-hal yang hanya bisa dipahami dengan hati. Dan seni, dalam bentuknya yang paling jujur, adalah bahasa hati itu sendiri.
Pagelaran ini menjadi cermin—memantulkan kembali wajah manusia yang sering lupa pada dirinya sendiri. Ia mengingatkan bahwa di tengah kesibukan dunia, manusia tetap membutuhkan ruang sunyi untuk kembali kepada Tuhan.
Pada akhirnya, wojiwo pandome urip bukan sekadar lakon, melainkan jalan. Jalan sunyi yang mengajak manusia untuk pulang. Pulang kepada jiwanya, pulang kepada sejarahnya, dan pulang kepada Tuhannya.
Sebab hidup bukan sekadar perjalanan dari lahir menuju mati. Ia adalah perjalanan dari lalai menuju sadar, dari gelap menuju cahaya.
Dan ketika malam itu usai, ketika lampu padam dan panggung kembali sunyi, barangkali yang tersisa bukan sekadar kenangan—melainkan cahaya kecil dalam jiwa. Cahaya yang pelan-pelan menuntun langkah, mengingatkan bahwa selama manusia masih mau mendengar suara hatinya, selama itu pula pandome urip akan tetap hidup.
Dalam diam. Dalam dzikir. Dalam langkah yang perlahan, namun pasti menuju-Nya
