Lentera Sastra Banyuwangi
6 Juni 2026

UIMSYA Jadi Episentrum Konsolidasi Pesantren NU Banyuwangi, RMI Luncurkan Gerakan Ayo Mondok dan Deklarasi Pesantrenku Aman

BANYUWANGI – Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Banyuwangi menjadi ruang temu besar keluarga pesantren Nahdlatul Ulama dalam kegiatan Halal Bihalal Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Banyuwangi, yang dihadiri sekitar 200 perwakilan pondok pesantren dari berbagai penjuru Banyuwangi. Momentum tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi kelembagaan, tetapi juga peneguhan arah gerakan pesantren melalui Launching Gerakan Nasional Ayo Mondok, Deklarasi Pesantrenku Aman, serta Pengukuhan Pengurus RMI PCNU Banyuwangi masa khidmat terbaru.

Dalam forum yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan itu, Rektor UIMSYA Banyuwangi, Dr. KH. A. Munib Syafaat, Lc., M.E.I., resmi dikukuhkan sebagai Ketua RMI PCNU Banyuwangi. Prosesi pengukuhan dilakukan oleh Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, disaksikan langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH. Fakhruddin Mannan, Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H. Turmudzi, jajaran pengurus PCNU, para pengasuh pondok pesantren, serta pengurus RMI putra-putri se-Banyuwangi.

Dalam tausiyah kebangsaannya, KH. Fakhruddin Mannan menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan keagamaan, melainkan benteng peradaban Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus ruang kaderisasi yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan berkomitmen terhadap kemaslahatan bangsa.

Menurutnya, ketahanan pesantren dalam menghadapi perubahan zaman merupakan buah perjuangan panjang para ulama, yang meletakkan dasar pendidikan Islam berbasis sanad keilmuan, akhlak, dan pengabdian sosial.

“Pesantren adalah penjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dari rahim pesantren lahir kader-kader umat yang memiliki ilmu, akhlak, dan tanggung jawab kebangsaan,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, H. Turmudzi menekankan bahwa sejarah lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama tidak dapat dilepaskan dari denyut kehidupan pondok pesantren. Baginya, pesantren merupakan pusat transmisi ilmu, penjaga sanad ulama, sekaligus laboratorium pembentukan karakter kebangsaan.

“Pesantren tidak hanya melahirkan insan yang kuat secara spiritual dan intelektual, tetapi juga membentuk karakter kebangsaan yang kokoh. Karena itu, penguatan pesantren merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban umat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua RMI PCNU Banyuwangi yang baru dikukuhkan, KH. A. Munib Syafaat, menegaskan bahwa peluncuran program “Pesantrenku Aman” menjadi bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat ekosistem pesantren yang sehat, aman, ramah, dan berpihak pada tumbuh kembang santri.

Ia menjelaskan, di tengah besarnya kontribusi sekitar 42 ribu pondok pesantren di Indonesia dalam pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat, masih muncul sejumlah stigma akibat perilaku segelintir oknum yang kemudian digeneralisasi terhadap pesantren secara keseluruhan. Karena itu, menurutnya, pesantren perlu tampil lebih terbuka dan proaktif menunjukkan wajah aslinya sebagai ruang pendidikan karakter yang humanis dan membahagiakan.

“Pesantren adalah rumah pembentukan akhlak dan karakter. Melalui gerakan Pesantrenku Aman, kita ingin menegaskan bahwa pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, sehat, serta menyenangkan bagi para santri,” tegasnya.

Sebagai implementasi konkret gerakan tersebut, RMI PCNU Banyuwangi akan menginisiasi Lomba Video Pendek Pesantren Aman, Nyaman, dan Menyenangkan sebagai medium memperkenalkan wajah positif pesantren kepada publik, khususnya generasi muda digital melalui berbagai platform media sosial.

Tak berhenti pada penguatan narasi, forum tersebut juga menjadi arena pemaparan program strategis RMI Banyuwangi untuk masa khidmat mendatang. Sejumlah agenda prioritas disiapkan, mulai dari Sapa Santri, Pelatihan Skill Santri, Pelatihan Konseling Pesantren, Musabaqah RMI, Liga Santri, EBTADIN, Program Beasiswa Santri, hingga Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU (PDPKP NU) bagi pengasuh maupun santri.

Selain itu, RMI juga merancang penguatan jejaring kelembagaan melalui program RMI Gathering dan Tadabbur Alam, sebagai ikhtiar membangun solidaritas, penguatan ideologi Aswaja, serta pengembangan kapasitas sumber daya pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, RMI PCNU Banyuwangi turut mengimbau pondok pesantren yang belum memiliki Izin Operasional Pondok Pesantren (IJOP) maupun belum memperbarui data Education Management Information System (EMIS) agar segera melakukan penyesuaian administrasi dengan pendampingan dari Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP).

Melalui momentum Halal Bihalal ini, RMI PCNU Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antarpondok pesantren, memperkokoh peran pesantren sebagai pusat kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah, serta menghadirkan tata kelola pendidikan pesantren yang semakin adaptif, aman, humanis, dan relevan dengan tantangan zaman.

Semangat itu kemudian ditutup dengan seruan kolektif yang menggema di ruang forum:

“Ayo Mondok, Pesantrenku Aman, Santriku Berdaya, Aswaja Tetap Jaya.”

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *