Senyum Paling Sunyi Di Hadapan Cahaya
Di had
apan perawan air Ijen, aku duduk menunggu Tuhan,
menunggu bukan dengan gelisah,
melainkan dengan kerinduan yang tumbuh
seperti bunga yang tidak pernah bertanya
kapan matahari datang menyentuh kelopaknya.
Aku duduk seperti seorang kekasih
yang tanpa lelah menafsirkan cahaya
pada wajah yang tak pernah sepenuhnya ia lihat,
namun ia yakini lebih nyata
daripada segala bayangan yang diciptakan dunia.
Sebab apa yang tak tampak bagi mata,
justru sering kali lebih terang
bagi hati yang sedang pulang.
Angin dari Selat Bali turun perlahan,
membawa kabar-kabar lembut yang tak bersuara.
Ia berkata bahwa cinta adalah perjalanan panjang
di antara rindu yang menyala
dan kesabaran yang mengasuh jiwa.
Setiap hembusnya
adalah ayat tanpa huruf,
dikirimkan dari langit
ke dalam ruang terdalam dadaku.
Di sana, di ruang yang tak disentuh siapa pun,
tumbuh sebuah surga kecil
dari zikir yang tak pernah putus.
Zikir itu mengalir
seperti mata air yang tak meminta nama,
hanya memberi,
hanya menyembuhkan,
hanya menyinari
tanpa pernah bertanya siapa yang haus.
Ketika aku menunduk,
kulihat cinta menjadi sajadah
yang terhampar luas
antara debur ombak
dan nyala langit yang pecah oleh cahaya subuh.
Pada sajadah itu,
aku belajar bahwa agama
bukanlah bangunan yang kokoh oleh aturan,
melainkan desir lembut
yang menyusuri kolam kejernihan
di dalam diriku sendiri.
Di sanalah iman tumbuh
tanpa diumumkan,
tanpa dipamerkan,
hanya menyala seperti pelita kecil
di ruang paling sunyi.
Dan pada kesunyian itulah
aku melihat Tuhan menunggu,
bukan dengan megah,
bukan dengan petir kebesaran,
melainkan dengan senyum paling sunyi
yang pernah diciptakan semesta.
Senyum yang tak memanggil,
namun membuatku ingin kembali.
Aku datang kepada-Nya
dengan segala rapuhku
yang tak bisa kusembunyikan.
Aku datang sebagai pecinta
yang telah cukup lama tersesat
di jalan yang terlalu ramai
oleh suara dunia.
Kini aku pulang,
tanpa apa pun
kecuali kerinduan
yang menuntunku mendekat.
Jika kelak aku tenggelam
dalam cahaya-Nya
seperti embun yang kembali
ke pangkuan awan,
biarlah namaku hilang,
sebab nama adalah milik bumi,
sedangkan cinta adalah milik langit.
Banyuwangi, 06-12-2025
