Lentera Sastra Banyuwangi
15 Mei 2026

Langkah Sunyi Para Biksu Thudong Disambut Hangat di Banyuwangi, Merawat Damai di Tengah Keberagaman

BANYUWANGI (Lentera Sastra)  Senin siang (11/5/2026), halaman TITD Tik Liong Tian dipenuhi wajah-wajah penuh haru dan sukacita. Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, langkah panjang para biksu Thudong akhirnya tiba setelah menempuh perjalanan spiritual lintas negeri yang melelahkan namun penuh makna.

Sebanyak 56 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia datang dengan jubah sederhana dan kaki yang telah akrab dengan debu jalanan. Namun di balik kesunyian langkah mereka, tersimpan pesan besar tentang perdamaian, ketekunan, dan persaudaraan antarmanusia.

Kedatangan para biksu disambut hangat oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, bersama pengurus yayasan TITD, umat Tri Dharma, tokoh lintas agama, dan masyarakat yang memadati kawasan klenteng. Barongsai menari menyambut mereka, menghadirkan warna-warni kebahagiaan di tengah perjalanan spiritual yang khidmat.

Di pelataran tempat ibadah itu, para biksu menjalani prosesi sederhana namun sarat makna: mencuci kaki, menebar bunga, dan mengikuti seremoni penyambutan. Air yang membasuh kaki mereka seakan menjadi saksi betapa panjang jalan yang telah ditempuh demi sebuah laku batin menuju kedamaian.

Bupati Ipuk menyampaikan rasa hormat atas ketulusan para biksu yang rela berjalan ribuan kilometer untuk menjalankan ritual Thudong menuju Candi Borobudur sebagai pusat perayaan Hari Raya Waisak tahun ini.

“Ini adalah kebanggaan tersendiri bagi Banyuwangi karena menjadi salah satu kota persinggahan dalam perjalanan thudong tahun ini,” ungkap Ipuk.

Perjalanan spiritual tersebut merupakan bagian dari Indonesia Walk for Peace 2026. Sebuah perjalanan sunyi yang bukan hanya menghubungkan kota demi kota, tetapi juga menyambungkan pesan kemanusiaan di tengah dunia yang sering gaduh oleh perbedaan.

Di Banyuwangi, pesan itu menemukan rumahnya sendiri. Ipuk mengatakan bahwa keberagaman di Banyuwangi tumbuh seperti taman yang dirawat bersama. Masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng berdiri berdampingan tanpa sekat kebencian.

“Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk saling menguatkan,” ujarnya.

Perjalanan para biksu menuju Borobudur akan berlangsung sekitar tiga pekan dengan total jarak tempuh sekitar 666 kilometer. Setiap langkah mereka bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan latihan kesabaran, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Ketua Panitia Klenteng Tik Liong Tian, Siswanto, menjelaskan bahwa sepanjang perjalanan para biksu akan singgah di berbagai vihara dan tempat ibadah yang telah disiapkan panitia di sejumlah daerah.

Dari Rogojampi, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Vihara Jaya Manggala di Desa Yosomulyo untuk beristirahat sebelum meneruskan langkah ke Pasuruan dan kota-kota lain menuju Borobudur.

Salah satu biksu asal Indonesia, Bhante Jinavaro, mengaku bersyukur dapat mengikuti perjalanan spiritual tersebut. Meski harus menghadapi panas terik dan medan panjang, semangat untuk sampai ke Borobudur tidak pernah surut.

“Perjalanannya sangat bagus, walaupun banyak rintangan dan hambatan. Cuaca di Bali luar biasa panas dibandingkan di Pulau Jawa. Tapi kami tetap harus punya semangat supaya bisa sampai di Borobudur,” ujarnya.

Di tengah dunia yang sering gaduh oleh perbedaan, langkah para biksu Thudong itu mengajarkan satu hal sederhana: bahwa damai tidak lahir dari kemewahan kata-kata, melainkan dari ketulusan hati yang terus berjalan, meski jalan terasa panjang dan melelahkan.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *