Lentera Sastra Banyuwangi
15 Mei 2026

Sumber Gedor Banyuwangi, Mata Air Tua yang Menjaga Denyut Kehidupan

BANYUWANGI (Lentera Sastra) Di kaki megah Gunung Ijen, di antara rimbun pepohonan yang meneduhkan bumi Gombengsari, mengalir sebuah mata air tua yang tak pernah letih memberi kehidupan. Namanya Sumber Gedor, mata air bersejarah yang sejak hampir seabad lalu menjadi nadi air bersih bagi masyarakat Banyuwangi.

Di tempat itu, desir angin hutan berpadu dengan gemericik air yang jernih bagai kaca. Pepohonan tinggi menjulang seakan menjadi penjaga sunyi bagi sumber kehidupan yang lahir dari rahim bumi. Meski berada tak jauh dari permukiman warga, suasana di kawasan tersebut tetap terasa teduh dan sakral, menghadirkan kesejukan khas lereng Ijen yang sulit ditemukan di tempat lain.

Sumber Gedor bukan sekadar sumber air biasa. Ia adalah jejak sejarah yang dibangun sejak masa kolonial Belanda pada 1926 dan mulai beroperasi setahun kemudian. Dari sanalah air kehidupan dialirkan ke kota Banyuwangi hingga kini, menjadikannya salah satu peninggalan berharga yang menyimpan nilai sejarah sekaligus kemanfaatan bagi masyarakat.

Hampir satu abad berlalu, namun mata air itu tetap mengalir tanpa pernah mengering. Dari kedalaman bumi, airnya muncul bening dan kaya mineral, menghidupi ribuan warga dengan kesegaran alami yang tetap terjaga. PUDAM Banyuwangi pun menjaga kawasan ini dengan penuh kehati-hatian melalui sistem pengelolaan tertutup agar kemurnian air tetap lestari hingga sampai ke rumah-rumah masyarakat.

Kini, Sumber Gedor tidak hanya menjadi ruang konservasi air, tetapi juga dibuka sebagai wisata edukasi. Anak-anak sekolah dan masyarakat diajak mengenal lebih dekat bagaimana air dari alam diproses sebelum mengalir ke kehidupan sehari-hari. Mereka dapat melihat langsung sumber mata air, memahami pentingnya menjaga lingkungan, hingga merasakan sendiri kesegaran air murni yang telah melalui penyulingan sederhana.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menilai kawasan tersebut memiliki nilai penting sebagai ruang pembelajaran sekaligus pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga mata air dan lingkungan sekitarnya.

“Sangat mendukung PUDAM untuk mengenalkan kawasan ini ke pelajar dan masyarakat. Ini juga semacam pesan kepada generasi muda bahwa sumber mata air harus dijaga dengan baik, dan lingkungan yang melingkupinya. Ini akan menjadi wisata edukasi alternatif, apalagi ini bisa dibilang semacam cagar budaya,” ujarnya saat meninjau kawasan tersebut, Rabu (13/5/2026).

Direktur Utama PUDAM Banyuwangi, Abdurrahman, menambahkan bahwa air dari Sumber Gedor memiliki kandungan mineral yang baik bagi kesehatan. Kemurniannya bahkan telah dibuktikan melalui uji laboratorium dari Labkesda.

Lebih dari itu, kawasan tersebut juga menjadi ruang belajar alam terbuka. Di tengah lebatnya vegetasi, para siswa dikenalkan pada berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar sumber air, mulai dari pohon kluwek, jambu, kemiri, hingga aneka tanaman lain yang hidup harmonis menjaga keseimbangan alam.

Di Sumber Gedor, air bukan sekadar aliran yang menghapus dahaga. Ia adalah warisan waktu, penjaga kehidupan, dan pengingat bahwa alam yang dirawat dengan cinta akan terus memberi kehidupan bagi generasi yang akan datang.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *