Seblang Bakungan: Ketika Cahaya Dipadamkan, Ingatan Leluhur Dinyalakan
Oleh : Syafaat
Di tengah derasnya arus modernitas yang menjadikan malam semakin terang oleh lampu-lampu listrik, masyarakat Osing di Bakungan justru memilih memadamkan cahaya buatan untuk menyalakan cahaya yang lebih tua: cahaya tradisi. Seblang Bakungan bukan sekadar pertunjukan tari atau agenda budaya tahunan, melainkan sebuah ruang perjumpaan antara manusia, alam, leluhur, dan harapan yang diwariskan lintas generasi.
Seblang Bakungan bukan sekadar ritual adat yang diwariskan dari masa silam, melainkan sebuah ikhtiar spiritual yang tumbuh dari kesadaran masyarakat Osing dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di tengah perjalanan waktu yang terus bergerak, tradisi ini tetap berdiri teguh sebagai penanda ingatan kolektif tentang jejak para leluhur yang membuka hutan belantara menjadi ruang kehidupan pada sekitar tahun 1639. Dari tanah yang dahulu dipenuhi rimbun pepohonan dan sunyi alam liar itu, lahirlah perkampungan yang dibangun bukan hanya dengan tenaga dan keberanian, tetapi juga dengan doa-doa yang dipanjatkan ke langit. Karena itulah Seblang hadir sebagai upacara bersih desa dan tolak bala, sebuah bentuk rasa syukur atas nikmat kehidupan sekaligus permohonan agar kampung senantiasa dijauhkan dari marabahaya. Dalam setiap prosesi, masyarakat seolah diajak menengok kembali akar keberadaan mereka, mengingat bahwa kehidupan yang tenteram hari ini merupakan buah dari perjuangan panjang para pendahulu. Seblang menjadi ruang perjumpaan antara sejarah dan spiritualitas, antara ikhtiar manusia dan harapan yang disandarkan kepada Yang Maha Kuasa. Di dalamnya bersemayam keyakinan bahwa sebuah desa tidak hanya dibangun oleh rumah-rumah dan jalan-jalan, tetapi juga oleh doa, kebersamaan, serta penghormatan terhadap warisan nilai yang dititipkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, Seblang bukan hanya menjaga tradisi tetap hidup, melainkan juga menjaga ruh kehidupan masyarakat agar tetap berpijak pada kearifan, rasa syukur, dan kesadaran akan hubungan suci antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ritual diawali dengan Ider Bumi, sebuah prosesi sakral yang mengajak masyarakat kembali mengingat akar kebersamaan mereka. Ketika seluruh lampu listrik di satu kelurahan dipadamkan, suasana desa berubah menjadi panggung kebudayaan yang nyaris purba. Di tepi jalan, warga menggelar tikar, menyalakan obor, dan menunggu perjalanan ritual yang akan mengelilingi seluruh sudut kampung. Dalam remang cahaya api, wajah-wajah warga tampak menyatu tanpa sekat sosial, seolah desa kembali menemukan dirinya yang paling asli. Obor-obor yang dibawa dalam Ider Bumi bukan hanya alat penerangan. Ia adalah simbol perjalanan manusia menembus gelap kehidupan. Sementara lantunan adzan yang dikumandangkan di setiap persimpangan jalan menghadirkan makna spiritual yang mendalam. Persimpangan bukan sekadar titik temu jalan, melainkan metafora pilihan hidup. Di sana, doa dipanjatkan agar setiap langkah masyarakat selalu berada dalam jalan keselamatan.
Menariknya, selama ritual berlangsung, hidangan khas Pecel Pitik belum boleh disantap. Makanan yang tersaji di atas tikar itu seakan menjadi pelajaran tentang kesabaran. Dalam kebudayaan tradisional, makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga bagian dari tata nilai. Pecel Pitik baru dapat dinikmati ketika lampu listrik kembali menyala, menandai berakhirnya Ider Bumi. Cahaya yang kembali hadir menjadi simbol bahwa doa-doa telah dipanjatkan, ikhtiar telah dilakukan, dan masyarakat kini dapat menikmati berkah kebersamaan.
Malam kemudian mencapai puncaknya ketika penari Seblang memasuki arena sekitar pukul delapan malam. Di sinilah keunikan Seblang Bakungan menemukan identitasnya. Berbeda dengan Seblang Olehsari yang diperankan gadis muda, Seblang Bakungan dibawakan oleh perempuan yang telah memasuki masa menopause. Pilihan ini menunjukkan pandangan hidup masyarakat Osing yang memuliakan pengalaman dan kematangan batin. Tubuh yang menari bukan lagi simbol kecantikan fisik semata, melainkan wadah kebijaksanaan yang telah ditempa oleh perjalanan hidup. Dua bilah keris yang dibawa penari menghadirkan simbol keseimbangan antara kekuatan lahir dan batin. Dalam kebudayaan Jawa dan Osing, keris bukan sekadar senjata, melainkan representasi kehormatan, penjagaan diri, serta hubungan manusia dengan nilai-nilai spiritual. Ketika keris bergerak mengikuti irama tari, yang dipertontonkan sesungguhnya bukan ketangkasan, melainkan dialog antara manusia dengan warisan leluhurnya.
Pada pertengahan ritual, masyarakat menantikan hadirnya Kembang Dermo. Rangkaian bunga yang terdiri dari kenanga, kantil, dan melati itu diedarkan kepada para penonton dengan uang penebus yang sangat sederhana. Namun nilai yang terkandung di dalamnya jauh melampaui nominal yang diberikan. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, Kembang Dermo merupakan simbol “bunga berkah” yang membawa doa keselamatan, kelancaran rezeki, kesehatan, serta perlindungan dari mara bahaya. Ketiga bunga yang dirangkai menjadi satu menyimpan filosofi yang indah. Kenanga melambangkan keharuman nama dan kemuliaan hidup. Kantil mengajarkan manusia agar selalu “nggandul kantil”, senantiasa terhubung dengan leluhur dan nilai-nilai kebaikan. Sementara melati menjadi lambang kesucian niat dan kejernihan hati. Ketika ketiganya disatukan dalam satu tangkai bambu, masyarakat seolah menitipkan harapan agar kehidupan tetap berada dalam harmoni antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di tengah dunia yang semakin pragmatis, Seblang Bakungan mengajarkan bahwa kebudayaan bukanlah benda mati yang disimpan di museum. Ia hidup dalam langkah kaki yang mengelilingi desa, dalam nyala obor yang menembus gelap, dalam aroma Pecel Pitik yang menunggu waktu untuk disantap, dalam gerak tari perempuan sepuh yang memanggul ingatan kolektif, dan dalam setangkai Kembang Dermo yang membawa harapan sederhana tentang keselamatan hidup. Seblang Bakungan bukan hanya milik masyarakat Osing. Ia adalah pengingat bagi kita semua bahwa sebuah peradaban akan tetap tegak selama manusia masih bersedia menjaga hubungan dengan akar budayanya. Sebab ketika cahaya listrik dipadamkan, sesungguhnya yang sedang dinyalakan adalah cahaya ingatan, identitas, dan kebijaksanaan yang diwariskan oleh leluhur kepada generasi penerusnya.
Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
