Ketika Pertandingan Tidak Boleh Menang
Oleh: Syafaat
Sejak sore, grup-grup WhatsApp mulai ramai. Ada yang mengajak nonton bareng, menyiapkan layar, membawa kopi dan camilan. Sebuah tembok rumah berubah menjadi layar besar, jalan menjadi ruang perjumpaan, kursi-kursi plastik berjajar, ada yang rela duduk di tikar, dan suara komentator bercampur dengan tawa serta sorak warga. Anak-anak pun ikut datang, mungkin bukan karena memahami alur sepak bola, tetapi karena memahami sesuatu yang lebih sederhana: kebersamaan. Sebab kadang manusia tidak datang karena mengerti seluruh permainan, melainkan karena ingin merasakan bahwa dirinya tidak sedang sendirian.
Saya pun ikut nimbrung di Basecamp Karangrejo. Bukan karena benar-benar memahami seluruh seluk-beluk sepak bola. Untuk menjelaskan aturan permainan saja mungkin saya harus berpikir dan browsing lebih dahulu. Tetapi malam itu saya sadar, memahami semua aturan bukan syarat untuk duduk bersama. Cukup menikmati kopi Kang Ghofur, mendengar perdebatan kecil tentang pemain, ikut bersorak ketika bola masuk, dan menahan napas ketika peluang gol datang. Barangkali tidak semua penonton sepak bola memahami logika perbolaan. Ada yang lebih fasih membaca budaya Banyuwangi daripada membaca strategi di lapangan. Namun justru di situlah keindahannya: sepak bola kadang bukan tentang seberapa banyak kita memahami permainan, melainkan seberapa jauh sebuah permainan mampu mempertemukan manusia.
Sembilan puluh menit adalah waktu yang diberikan. Dua babak, masing-masing empat puluh lima menit. Jika belum selesai, waktu dapat diperpanjang. Ada menit tambahan, ada tiga puluh menit perpanjangan waktu, dan jika kemenangan masih enggan memilih siapa yang berhak memilikinya, tibalah manusia pada titik putih: adu penalti. Waktu ternyata tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita kehendaki. Ia bisa terasa panjang ketika kita menunggu, tetapi begitu singkat ketika kesempatan hampir habis. Dalam hidup pun demikian. Tuhan memberi kita waktu, tetapi tidak pernah menjanjikan berapa lama kita akan berada di lapangan kehidupan. Barangkali usia kita hanya sampai peluit tertentu. Barangkali pula Tuhan memberikan tambahan waktu agar kita masih sempat memperbaiki kesalahan, mengejar ketertinggalan, atau memperjuangkan sesuatu yang belum selesai.
Malam itu pertandingan tidak segera menemukan pemenang. Sembilan puluh menit berlalu, perpanjangan waktu pun belum menyelesaikan cerita. Kedua kesebelasan masih menggenggam kemungkinan. Sampai akhirnya kemenangan harus ditentukan dari titik putih. Sebuah titik kecil yang jaraknya hanya sebelas meter dari gawang, tetapi dapat terasa begitu jauh bagi seorang pemain yang berdiri di hadapannya. Di sana tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada teman yang dapat menendang menggantikan. Tidak ada kesempatan untuk mengulang. Hanya ada bola, gawang, penjaga gawang, doa yang mungkin berbisik di dalam dada, dan keberanian untuk mengambil keputusan. Bukankah hidup juga sering membawa kita ke titik putih semacam itu?
Ada saat ketika nasihat orang lain berhenti pada batas tertentu. Ada keputusan yang pada akhirnya harus kita ambil sendiri. Kita boleh meminta pertimbangan, mendengar banyak suara, menyusun berbagai kemungkinan, tetapi ketika waktunya tiba, kaki kitalah yang harus melangkah. Kita tidak pernah memperoleh jaminan bahwa tendangan akan menjadi gol. Kita hanya diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Selebihnya, hasil adalah wilayah yang berada di luar kuasa manusia. Barangkali di situlah letak rahasia kehidupan: manusia diwajibkan berikhtiar, tetapi tidak ditugaskan menguasai hasil.
Kita sering mengira kemenangan adalah tanda bahwa Tuhan berpihak kepada kita, sementara kekalahan seolah menjadi tanda bahwa doa kita tidak didengar. Padahal tidak sesederhana itu. Ada kekalahan yang menyelamatkan kita dari kesombongan. Ada kemenangan yang justru menjadi ujian. Ada kegagalan yang membuka pintu baru. Ada keberhasilan yang diam-diam menguji apakah kita mampu tetap rendah hati. Sebab kalah dalam pertandingan tidak selalu berarti kalah sebagai manusia. Demikian pula menang tidak selalu berarti menjadi yang terbaik. Seseorang dapat kalah setelah memberikan permainan terbaiknya, sementara orang lain dapat menang melalui permainan yang jauh dari sempurna. Piala memang hanya satu, tetapi makna perjuangan tidak pernah sesempit jumlah piala yang berhasil diangkat.
Dan akhirnya dalam pertandingan tersebut, Indonesia keluar sebagai pemenang melalui adu penalti. Sorak pecah di tempat kami nobar. Anak-anak ikut berteriak, orang-orang yang sejak tadi tegang kembali tertawa. Kopi yang sempat dingin tetap diminum, camilan kembali berpindah dari tangan ke tangan. Di tempat itu, kami mungkin tidak mengangkat piala, tetapi kami merasakan sesuatu yang hampir serupa: kegembiraan karena sebuah penantian akhirnya menemukan jawaban. Saya kemudian berpikir, bukankah hidup juga demikian?
Kita menunggu pekerjaan, menunggu jawaban, menunggu kesempatan, menunggu seseorang berubah, menunggu keadaan membaik, bahkan menunggu doa menemukan jalannya. Sering kali kita merasa waktu sudah habis. Padahal selama peluit kehidupan belum berbunyi, masih ada kemungkinan yang belum selesai dituliskan Tuhan. Maka jangan terlalu cepat menyebut keadaan sebagai akhir. Selama napas masih diberikan, masih ada ruang untuk memperbaiki. Selama kaki masih mampu melangkah, masih ada jalan yang dapat ditempuh. Selama hati masih mengenal doa, masih ada tempat untuk berharap. Dan selama Tuhan belum menutup pintu kehidupan, jangan buru-buru menganggap pertandingan telah selesai.
Ada satu hal yang juga harus kita terima: tidak semua perjuangan berakhir dengan piala. Tidak semua doa mendapatkan jawaban dalam bentuk yang kita inginkan. Tidak semua orang yang bekerja keras akan berdiri di podium. Tetapi setiap perjuangan semestinya meninggalkan sesuatu, keberanian, kesabaran, pengalaman, kerendahan hati, atau pelajaran untuk menghadapi pertandingan berikutnya. Sebab mungkin Tuhan tidak selalu meminta kita menjadi pemenang. Bisa jadi Dia hanya meminta kita menjadi manusia yang tidak menyerah pada kebaikan.
Malam itu saya pulang dari tempat nobar bukan sebagai ahli sepak bola; saya tetap tidak hafal seluruh aturan permainan, tetapi dari wajah-wajah yang berlari di lapangan saya justru melihat wajah Indonesia dalam arti yang lebih luas—wajah yang tidak harus seragam untuk disebut satu bangsa, sebab negeri ini sejak dahulu tumbuh dari perjumpaan berbagai suku, etnis, budaya, dan bangsa yang datang, menetap, berbaur, lalu ikut menenun kain bernama Indonesia; bukankah keberagaman memang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang negeri ini, dan bukankah persatuan tidak pernah mensyaratkan kesamaan wajah, darah, atau asal-usul, melainkan kesediaan untuk berdiri di tanah yang sama dan menyebutnya rumah bersama? Maka saya membawa pulang pelajaran bahwa kita tidak harus memahami seluruh permainan untuk memahami maknanya: cukup melihat bagaimana manusia bertahan ketika waktu hampir habis, bagaimana sebuah tim terus berjuang ketika kemenangan belum terlihat, dan bagaimana seorang pemain berani berdiri di titik putih, menendang bola dengan seluruh keyakinannya, meski ia tidak pernah benar-benar tahu apakah tendangannya akan menjadi gol; sebab seperti Indonesia, kehidupan pun dibangun bukan oleh keseragaman, melainkan oleh keberanian banyak manusia yang berbeda untuk berjalan menuju satu tujuan yang sama.
Kadang hidup membuat kita tertinggal, kadang menyamakan langkah, kadang membawa kita berada di depan, dan kadang memaksa kaki berlari lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan; hingga pada suatu waktu, setelah seluruh ikhtiar ditunaikan, kita harus berdiri seorang diri di titik putih kehidupan, berhadapan dengan ketidakpastian yang tidak dapat kita kendalikan. Saat itulah jangan terlalu sibuk menghitung apakah langkah kita akan berujung menang atau kalah, sebab manusia hanya dititipi kewajiban untuk berusaha, sementara hasil tetap menjadi rahasia Tuhan. Yang dapat kita lakukan hanyalah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, menjaga kesempatan dengan penuh kesadaran, lalu menyerahkan hasil kepada-Nya dengan hati yang lapang. Sebab waktu adalah amanah, kesempatan adalah amanah, dan bahkan kemenangan pun sesungguhnya bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan yang kelak akan ditanya untuk apa ia digunakan.
Dari sebuah layar proyektor di tembok rumah, dari jalan yang untuk beberapa jam berubah menjadi ruang kebersamaan, dari kopi yang diminum bersama dan suara anak-anak yang berteriak kegirangan, saya belajar bahwa hidup mungkin bukan tentang selalu menjadi pemenang. Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap bermain dengan jujur ketika permainan belum selesai, tetap berharap ketika waktu hampir habis, dan tetap berani ketika akhirnya kita berdiri di titik putih. Sebab kemenangan kadang memang hanya berjarak sebelas meter. Tetapi sebelum kaki menendang bola, ada sesuatu yang lebih dekat daripada jarak itu: keyakinan bahwa kita telah melakukan ikhtiar terbaik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Dan mungkin, pada akhirnya, bukan kemenangan yang paling penting. Melainkan keberanian untuk tetap menendang ketika kita tahu bahwa bola bisa saja masuk, atau justru melenceng.
Lentera Sastra Banyuwangi
