Lentera Sastra Banyuwangi

Fatah Yasin Noor

*Inspirasi*

Aku pikir semua orang dapat inspirasi untuk melakukan sesuatu. Ada tarikan tak kasat mata, ia pun bergerak. Akal bulus pun ikut bekerja. Inspirasi tidak perlu dicari. Tapi kita hanya perlu menciptakan suasana kondusif yang nyaman. Inspirasi itu petunjuk. Sementara itu akal bulus adalah ide yang merusak. Musang berbulu domba. Hidup di dunia hanya berkutat dan berkubang dengan urusan dunia. Turun inspirasi bagaimana menciptakan hidup di dunia yang lebih baik. Terutama untuk kepentingan pribadi dan kemudian, merambah ke kemaslahatan masyarakat. Esai berbulu prosa. Seperti hantu itu nyata yang tak kasat mata. Seperti kegaiban yang harus dipercayai ada. Walau tak tahu apa-apa tentang yang gaib, ia bisa ngarang dengan sangat meyakinkan. Karena gaib itu nyata. Ada seseorang yang merasa mendapat inspirasi. Padahal pada dasarnya itu ide belaka. Bagi penyair, itu sejenis kehendak ingin menulis puisi. Tapi kehendak itu, tentu saja, belum jadi puisi “beneran”. Mungkin terlalu banyak pertimbangan. Atau sejatinya ia tak bisa menciptakan puisi? Tapi puisi yang bagus memanglah puisi yang masih ada dalam angan.

Katakanlah inspirasi itu musabab suasana psikologis tertentu. Kalau memang inspirasi tak perlu dicari, tapi kenapa ia seperti menunggu inspirasi? Kenapa tidak langsung ke titik soal? Jadi, lupakanlah inspirasi. Artinya, dalam proses kreatif inspirasi niscaya hadir dengan sendirinya. Pemahamanku mungkin meleset dari pengertian yang dibawa kamus. Tapi saya curiga jangan-jangan inspirasi itu adalah energi yang bergetar bersama cuaca. Ia akan menuntun pada kesadaran pertama pada kebenaran. Semacam cahaya yang turun, melapangkan jalan untuk melangkah pada ekstase estetis. Seseorang yang tengah memeluk dan merasakan “pencerahan”. Memancarkan cahaya ilahi ke alam semesta. Dengan kata lain, ia tengah menerjemahkan kenyataan dari yang gaib, dari yang tak kasat mata menjadi ada. Pengetahuan yang hadir saat ia bersinggungan, katakanlah membaca dan mendengarkan. Membaca alam semesta dalam artian melihat dan merasakan keindahan alam semesta. Alam semesta yang mencakup semua hal. Oleh sebab itu karya manusia hanyalah sebentuk teror.

Diakui atau tidak alam semesta setidaknya menawarkan inspirasi. Benda-benda yang ada, yang dapat dilihat, kadang kita mengelusnya. Hanya manusia yang punya tipu muslihat. Di zaman modern, ia bangga berbulu seniman. Sedap dipandang dengan bentuk menawan. Memanfaatkan mesin dan komputer. Tipu muslihat itu teror, di baliknya ada kehendak berkuasa, penindasan. Tak sebanding dengan penampakan alam semesta. Manusia punya pemikiran aneh-aneh, terutama para filsuf. Sastrawan juga. Begitu tabahnya ia menulis hingga berbuku-buku. Semangat dan etos kerja itu datang dari mana? Malam sakral dan ia terus berkontemplasi. Seolah merayakan akal sehat tak boleh lengah dari yang gaib. Hukum alam diterima dengan takzim. Kalau aku ingat mereka, maka aku tengah belajar, bahwa kita harus banyak bersyukur. Nasib memang tak sama. Inspirasi yang sejalan dengan karakter dan sifatnya.

Hanya ada dua hal: baik atau buruk. Yang buruk boleh jadi ada campur tangan setan. Yang baik adalah petunjuk dari langit. Tuhan memberkati dengan inspirasi untuk berjalan menyusuri tepian laut, misalnya. Celakanya kita ditakdirkan hidup mati di bumi. Dari tanah kembali ke tanah. Kisah Adam yang melegenda itu adalah kisah manusia pertama yang tersengat rayuan setan. Ia tidak mematuhi larangan Allah yang melarang Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Rayuan setan tentunya dilakukan terus-menerus dengan sabar. Tipu muslihat dan akal bulus setan yang memainkan narasi “keabadian”. Kita tak tahu bahasa apa yang dipakai dialog Adam dan setan. Aku tidak yakin mereka memakai bahasa Arab. Kisah percakapan antara setan dan Adam. Boleh jadi tanpa suara, hanya suara hati yang bicara. Seperti kita sekarang yang merasa tak pernah berdialog dengan setan. Tapi pengalaman pernah digoda setan, tanpa kita bisa melihat langsung setan dengan mata telanjang. Perkara ini perlu kita tanyakan ke orang yang ngerti, siapa? Adam dan Hawa diturunkan ke bumi tanpa sehelai pakaian yang menutupi auratnya. Mereka mendapat inspirasi membuat pakaian yang ada di bumi.

Inspirasi itu petunjuk. Yakni pengetahuan bagaimana caranya kita membereskan masalah. Inspirasi itu gaib. Mestinya inspirasi mengandung pengetahuan yang bermanfaat untuk manusia. Tapi rasanya aku tidak mendapat inspirasi untuk menafsir manusia pertama di bumi. Jadi jelas, kita anak cucu Adam. Bumi menyediakan pakaian, tapi pakaian takwa, kata Allah, itulah yang terbaik. Kayaknya itu sindiran untuk era sekarang dimana orang-orang lebih mementingkan penampilan lahiriah. Kadang penyair ingin lari ke gunung katokan saja. Kehendak lari itu tentu saja mengabaikan penampilan. Ingin nyepi sejenak di gunung seperti mencari inspirasi. Seperti seorang resi yang kenyang makan asam garam kehidupan. Banyak penyair yang mengakui kebesaran Tuhan. Akhirnya takluk pada ketakberdayaan. Kebenaran kokoh di langit dan di bumi.

Kalau inspirasi seperti pengelana, ia adalah pengelana yang gelisah. Bahasa hanyalah suara alam bawah sadar. Tuhan tidak lagi di sana, tapi di sini. Ia berjalan bersama bahasa. Tak bisa lepas dari takdir bahasa yang ambigu. Justru dari situ, sebagai pengembara agung. Jauh dari ambisi apapun yang dibawa dunia. Mungkin itu sejenis tirakat. Tuhan ada di sini. Meletup. Terus-menerus meletup dalam keterjagaan.

(2026)

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

yakinjp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

SATGASJITU

SLOT GACOR

SALAMJITU

SATGASJITU

SEMOGAJITU

SALAMJITU

Slot Gacor

MAUJP

Slot Gacor

SLOT GACOR

artikel 000000121

artikel 000000122

artikel 000000123

artikel 000000124

artikel 000000125

artikel 000000126

artikel 000000127

artikel 000000128

artikel 000000129

artikel 000000130

artikel 000000131

artikel 000000132

artikel 000000133

artikel 000000134

artikel 000000135

artikel 000000136

artikel 000000137

artikel 000000138

artikel 000000139

artikel 000000140

artikel 000000141

artikel 000000142

artikel 000000143

artikel 000000144

artikel 000000145

artikel 000000146

artikel 000000147

artikel 000000148

artikel 000000149

artikel 000000150

artikel 000000151

artikel 000000152

artikel 000000153

artikel 000000154

artikel 000000155

artikel 000000156

artikel 000000157

artikel 000000158

artikel 000000159

artikel 000000160

artikel 000000161

artikel 000000162

artikel 000000163

artikel 000000164

artikel 000000165

artikel 000000166

artikel 000000167

artikel 000000168

artikel 000000169

artikel 000000170

artikel 000000171

artikel 000000172

artikel 000000173

artikel 000000174

artikel 000000175

informasi terbaru kabupaten belu 00000056

informasi terbaru kabupaten belu 00000057

informasi terbaru kabupaten belu 00000058

informasi terbaru kabupaten belu 00000059

informasi terbaru kabupaten belu 00000060

informasi terbaru kabupaten belu 00000061

informasi terbaru kabupaten belu 00000062

informasi terbaru kabupaten belu 00000063

informasi terbaru kabupaten belu 00000064

informasi terbaru kabupaten belu 00000065

informasi terbaru kabupaten belu 00000066

informasi terbaru kabupaten belu 00000067

informasi terbaru kabupaten belu 00000068

informasi terbaru kabupaten belu 00000069

informasi terbaru kabupaten belu 00000070

informasi terbaru kabupaten belu 00000071

informasi terbaru kabupaten belu 00000072

informasi terbaru kabupaten belu 00000073

informasi terbaru kabupaten belu 00000074

informasi terbaru kabupaten belu 00000075

informasi terbaru kabupaten belu 00000076

informasi terbaru kabupaten belu 00000077

informasi terbaru kabupaten belu 00000078

informasi terbaru kabupaten belu 00000079

informasi terbaru kabupaten belu 00000080

informasi terbaru kabupaten belu 00000081

informasi terbaru kabupaten belu 00000082

informasi terbaru kabupaten belu 00000083

informasi terbaru kabupaten belu 00000084

informasi terbaru kabupaten belu 00000085

informasi terbaru kabupaten belu 00000086

informasi terbaru kabupaten belu 00000087

informasi terbaru kabupaten belu 00000088

informasi terbaru kabupaten belu 00000089

informasi terbaru kabupaten belu 00000090

informasi terbaru kabupaten belu 00000091

informasi terbaru kabupaten belu 00000092

informasi terbaru kabupaten belu 00000093

informasi terbaru kabupaten belu 00000094

informasi terbaru kabupaten belu 00000095

informasi terbaru kabupaten belu 00000096

informasi terbaru kabupaten belu 00000097

informasi terbaru kabupaten belu 00000098

informasi terbaru kabupaten belu 00000099

informasi terbaru kabupaten belu 00000100

informasi terbaru kabupaten belu 00000101

informasi terbaru kabupaten belu 00000102

informasi terbaru kabupaten belu 00000103

informasi terbaru kabupaten belu 00000104

informasi terbaru kabupaten belu 00000105

informasi terbaru kabupaten belu 00000106

informasi terbaru kabupaten belu 00000107

informasi terbaru kabupaten belu 00000108

informasi terbaru kabupaten belu 00000109

informasi terbaru kabupaten belu 00000110

informasi terbaru kabupaten belu 00000111

informasi terbaru kabupaten belu 00000112

informasi terbaru kabupaten belu 00000113

informasi terbaru kabupaten belu 00000114

informasi terbaru kabupaten belu 00000115

informasi terbaru kabupaten belu 00000116

informasi terbaru kabupaten belu 00000117

informasi terbaru kabupaten belu 00000118

informasi terbaru kabupaten belu 00000119

informasi terbaru kabupaten belu 00000120

informasi terbaru kabupaten belu 00000121

informasi terbaru kabupaten belu 00000122

informasi terbaru kabupaten belu 00000123

informasi terbaru kabupaten belu 00000124

informasi terbaru kabupaten belu 00000125

informasi terbaru kabupaten belu 00000126

informasi terbaru kabupaten belu 00000127

informasi terbaru kabupaten belu 00000128

informasi terbaru kabupaten belu 00000129

informasi terbaru kabupaten belu 00000130

news-1701