Idul Fitri, Seblang, dan Kembang Dermo: Ziarah Sunyi antara Langit, Leluhur, dan Keikhlasan Manusia
Oleh : Syafaat
Banyuwangi memang berbeda dari wilayah-wilayah lainnya. Ia bukan sekadar bentangan geografis di ujung timur Pulau Jawa dengan julukan The Sunrise of Java, melainkan sebuah ruang batin tempat tradisi, doa, dan keyakinan menyatu menjadi satu. Idul Fitri tidak hanya hadir sebagai perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi menjelma menjadi peristiwa spiritual yang menyentuh akar kehidupan: antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa.
Di Banyuwangi, khususnya di tengah masyarakat Osing, hari-hari setelah Lebaran dipenuhi dengan denyut tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, seolah waktu tidak pernah benar-benar memutus mata rantainya. Ada Barong Ider Bumi pada 2 Syawal di Desa Kemiren, yang mengarak harapan mengelilingi desa; ada Seblang Olehsari pada 3 hingga 7 Syawal di Desa Olehsari, yang menari dalam sunyi kesadaran; ada Kopat Sewu pada 7 Syawal di Boyolangu, yang merayakan syukur dalam kebersamaan; dan ada Puter Kayun pada 10 Syawal, sebagai penutup perjalanan spiritual yang penuh makna. Semua itu bukan sekadar tradisi, melainkan doa yang diwariskan, ikhtiar kolektif untuk menolak bala dan menjaga keseimbangan alam.
Manusia sesungguhnya sedang berdiri di persimpangan batin, sebuah ruang sunyi yang tak kasat mata namun riuh di dalam jiwa, di mana ia dihadapkan pada pilihan yang tak terelakkan: kembali sepenuhnya kepada fitrah atau sekadar melintasi ritual tanpa ruh dan makna; dan di titik itulah, di tanah Blambangan yang sarat sejarah dan spiritualitas, tradisi Seblang hadir sebagai jawaban yang tak diucapkan namun terasa, sebagai jalan sunyi menuju penyucian diri yang tidak berhenti pada syariat semata, melainkan telah mengakar dalam laku budaya masyarakat Osing di Banyuwangi; ia adalah ritual adat sakral yang berakulturasi dengan nilai-nilai Islam, bertujuan menolak bala dan mengungkapkan syukur, dilaksanakan di Olehsari pada bulan Syawal sebagai kelanjutan makna Idul Fitri, diawali dengan doa dan ziarah oleh tokoh agama dan adat sebagai peneguhan bahwa segala ikhtiar bermula dari penghambaan kepada Tuhan; lalu dalam puncak ritual, penari memasuki keadaan trance, seolah tubuhnya menjadi wadah bagi ingatan leluhur yang menuntun gerakannya, bukan untuk disembah, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia hanyalah bagian dari mata rantai panjang kehidupan yang tetap bermuara kepada Yang Maha Esa.
Di sinilah Seblang menjelma sebagai cermin akulturasi yang indah, bahwa agama tidak meniadakan tradisi, melainkan menyucikannya, bahwa kehadiran Islam diterima bukan sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai cahaya yang menerangi warisan lama, sehingga upacara di bulan Syawal ini menjadi tanda bahwa manusia tidak hanya merayakan kemenangan, tetapi juga merawat keseimbangan antara iman, budaya, dan kehidupan, seraya terus belajar bahwa kembali kepada fitrah bukan sekadar peristiwa, melainkan perjalanan pulang yang harus ditempuh dengan keikhlasan, kesadaran, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Menghidupkan. Seblang bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah ziarah ruhani. Ia adalah pertemuan antara langit, bumi, dan ingatan kolektif manusia. Dalam setiap geraknya, dalam setiap lantunan gendingnya, tersimpan kesadaran bahwa hidup tidak hanya berjalan di atas yang kasat mata, tetapi juga dipandu oleh kekuatan-kekuatan yang tak terlihat, yang oleh masyarakat dipercaya sebagai penjaga harmoni semesta.
Idul Fitri dalam pandangan masyarakat Osing tidak berhenti pada pelukan maaf dan hidangan lepet dan ketupat. Ia menjelma menjadi kesadaran yang lebih dalam: bahwa manusia tidak hanya perlu membersihkan diri dari dosa kepada sesama, tetapi juga dari segala kotoran batin yang tak kasat mata. Dari kesombongan yang tersembunyi, dari iri yang bersemayam, dari ketakutan yang tak terucap. Maka Seblang digelar, bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai doa yang ditarikan, sebagai permohonan yang dilafalkan melalui tubuh yang telah rela menjadi perantara.
Di sinilah keikhlasan menemukan maknanya yang paling dalam. Sebab Seblang bukan hanya tentang penari. Ia adalah tentang keluarga yang merelakan. Tentang orang tua yang menyerahkan anaknya kepada sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Tentang seorang gadis belia yang dipilih bukan oleh manusia, tetapi oleh garis takdir yang panjang, yang mengalir dari darah leluhur.
Penari Seblang adalah pilihan, bukan karena keinginan, tetapi karena panggilan. Ia lahir dari garis keturunan yang sama, seolah tubuhnya telah dipersiapkan sejak jauh hari untuk mengemban peran itu. Ketika omprok, sebuah mahkota dari janur dan bunga segar, dipasangkan di kepalanya, ia tidak lagi sekadar manusia. Ia menjadi wadah, menjadi jembatan antara dua dunia.
Dan ketika gending Seblang Lukinto dilantunkan, udara pun berubah. Suara sinden mengalun seperti doa yang menggetarkan langit. Setiap baitnya adalah panggilan. Setiap pengulangannya adalah ketukan pada pintu alam yang tak terlihat. Hingga pada akhirnya, tubuh penari mulai goyah, nyiru yang dipegangnya jatuh, dan ia terjungkal ke belakang, sebuah tanda yang diyakini bahwa roh Sang Hyang telah hadir. Bagi yang menyaksikan, itu adalah momen yang mengguncang batin. Bukan karena ketakutan, tetapi karena kesadaran yang tiba-tiba hadir: bahwa manusia tidak sepenuhnya memiliki dirinya sendiri. Bahwa tubuh ini hanyalah titipan, dan jiwa ini adalah amanah.
Dalam perspektif religi, Seblang menjadi pengingat yang begitu kuat: bahwa manusia adalah hamba. Bahwa di balik segala kesadaran yang ia banggakan, ada kuasa yang lebih besar yang mengatur segalanya. Namun, yang paling menggetarkan bukanlah peristiwa trance itu sendiri, melainkan keikhlasan yang melandasinya. Penari tidak sadar. Ia tidak mengingat. Ia tidak tahu. Tetapi justru di situlah letak keikhlasannya yang paling murni: ia menyerahkan dirinya sepenuhnya, tanpa syarat, tanpa perlawanan.
Bukankah dalam ibadah kita diajarkan hal yang sama? Bahwa sujud adalah bentuk tertinggi dari penyerahan diri? Bahwa dalam doa, kita diminta untuk melepaskan segala kesombongan dan mengakui bahwa kita tidak memiliki apa-apa? Seblang, dalam segala nuansa mistisnya, sesungguhnya adalah cermin dari kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa.
Lalu hadir Kembang Dermo, sebuah rangkaian bunga yang tidak sekadar memanjakan mata, tetapi menembus ke relung jiwa dengan makna yang dalam dan tak terucapkan. Ia bukan hanya hiasan dalam ritual Seblang, melainkan jelmaan harapan yang disusun dengan tangan-tangan penuh doa, seolah setiap kuntumnya adalah bisikan lirih yang dititipkan kepada langit. Bunga-bunga segar yang ditancapkan pada bilah bambu kecil itu memancarkan kesucian, menyimpan harapan masyarakat di Banyuwangi agar hidup mereka senantiasa harum oleh kebaikan, agar langkah mereka diliputi berkah, dan agar segala mara bahaya menjauh seperti bayang-bayang yang tercerai oleh cahaya pagi. Ketika gending Kembang Dermo dilantunkan, suasana pun berubah menjadi syahdu, udara seakan melambat, waktu seperti menunduk, dan setiap nada yang mengalun menjelma zikir yang tak putus, berulang-ulang, meresap ke dalam dada, mengetuk kesadaran yang paling sunyi.
Lalu, pada saat yang telah ditentukan oleh kehendak yang tak kasat mata, bunga-bunga itu dilempar, tundik seblang melayang di antara kerumunan, jatuh tanpa bisa ditebak, tanpa bisa dipilih, menuju tangan siapa pun yang telah digariskan untuk menerimanya. Di situlah masyarakat menyaksikan pelajaran hidup yang begitu jernih: bahwa tidak semua yang kita terima adalah hasil dari usaha semata, dan tidak semua yang jatuh ke pangkuan kita dapat kita rencanakan; ada takdir yang bekerja diam-diam, memilih dengan caranya sendiri. Dalam tundik seblang itu pula, Seblang seolah ingin menyampaikan pesan sunyi, bahwa kebersamaan tidak dibangun dari pilihan yang seragam, tetapi dari penerimaan yang tulus; siapa pun yang mendapatkannya adalah bagian dari lingkaran doa yang sama, dipersatukan oleh harapan yang tidak membedakan, oleh kasih yang tidak memilih, oleh takdir yang merangkul semua tanpa kecuali.
Bahwa tidak semua hal bisa dipilih. Bahwa ada yang datang tanpa direncanakan. Bahwa takdir bekerja dengan cara yang tidak selalu bisa dipahami. Namun di situlah letak keindahannya. Sebab hidup bukan tentang menguasai segalanya, tetapi tentang menerima dengan lapang dada apa yang telah digariskan. Puncak dari segala ketegangan terjadi ketika roh harus kembali dilepas. Saat gending kembali dilantunkan dengan irama yang lebih keras, penari bersiap untuk kembali ke dunia sadar. Wajahnya dicuci dengan Tuyo Arum, air yang telah dimantrai, sebagai simbol pemurnian.
Namun di balik prosesi itu, tersimpan risiko yang nyata. Jika penari tidak bisa dibangunkan, nyawa menjadi taruhannya. Di titik inilah, keikhlasan mencapai puncaknya. Masyarakat berdiri di antara harapan dan ketidakpastian. Orang tua menatap dengan doa yang tak terucap. Dan semua itu dilakukan dengan satu keyakinan: bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka. Karena itu, Seblang terus dijalankan. Tahun demi tahun. Generasi demi generasi. Bukan karena tradisi semata, tetapi karena iman yang hidup di dalamnya. Selama tujuh hari berturut-turut, ritual ini berlangsung, seolah menjadi perjalanan menuju kesempurnaan. Hingga pada akhirnya, Ider Bumi dilakukan, mengelilingi desa, mengunjungi titik-titik asal mula kehidupan, mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari akar dan sejarahnya.
Dan ketika semua itu berakhir, yang tersisa bukanlah keramaian, melainkan keheningan yang penuh makna. Sebab yang selesai hanyalah prosesi. Ruhnya tetap hidup. Seblang, pada akhirnya, adalah dzikir yang tidak diucapkan dengan lisan, tetapi dengan tubuh. Ia adalah doa yang tidak ditulis dalam kitab, tetapi diukir dalam gerak dan keikhlasan. Ia mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu sama. Bahwa setiap budaya memiliki cara sendiri untuk bersujud, untuk merunduk, untuk menyerahkan diri. Semua bermuara pada satu hal: keikhlasan. Keikhlasan penari.
Keikhlasan orang tua. Keikhlasan masyarakat. Dan bukankah itu inti dari Idul Fitri? Bahwa kembali ke fitrah bukan sekadar saling memaafkan, tetapi berani melepaskan. Melepaskan ego. Melepaskan rasa memiliki. Melepaskan keinginan untuk mengendalikan segalanya.
Di tengah dunia yang semakin rasional, Seblang mungkin tampak asing. Namun justru di situlah ia menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus dipahami. Bahwa ada ruang untuk misteri. Ada ruang untuk keheningan. Ada ruang untuk sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan mungkin, di ruang-ruang itulah Tuhan paling dekat. Ketika kita menatap kembali seluruh rangkaian itu, kita tidak hanya melihat tradisi. Kita melihat cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya. Bahwa kita rapuh. Bahwa kita terbatas. Bahwa kita hanyalah pengembara yang sedang mencari jalan pulang.
Banyuwangi, dengan segala tradisinya, adalah penunjuk arah itu, sebuah kamiang yang tidak hanya melahirkan budaya, tetapi juga menuntun jiwa-jiwa untuk kembali. Kembali kepada asal. Kembali kepada fitrah. Kembali kepada Yang Maha Memiliki.
Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
